News

pengunjung

Jumat, 22 April 2011

Narsisme?

Apa sih yang dimaksud narsis?
Narsis adalah istilah dalam ilmu psikologi untuk menyebut salah satu bentuk gangguan psikologis. Asal katanya adalah narsisme. Gangguan psikologis narsisme (dalam bahasa inggris disebut sebagai Narcissistic Personality Disorder, yang untuk seterusnya disingkat NPD), didefinisikan sebagai:
“Sebuah pola sifat dan perilaku yang dipenuhi obsesi dan hasrat pada diri sendiri untuk mengabaikan orang lain, egois, serta tidak memedulikan orang lain dalam memenuhi kepuasan, dominasi, dan ambisinya sendiri.”
Terkadang narsis disamakan dengan cinta diri yang berlebihan. Dunianya hanya dirinya sendiri tanpa mampu memberikan empati pada orang lain, apalagi cinta. Mereka kurang peduli dengan orang lain. Satu-satunya kepedulian mereka pada orang lain hanya jika orang itu bisa memberikan manfaat bagi diri mereka. Mereka adalah orang-orang yang mampu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka sendiri.


Pada umumnya orang menganggap narsis seseorang jika orang itu menunjukkan hal-hal berikut:
  • Memuji diri sendiri, misalnya: “Gue keren ya!”, “Siapa dulu yang buat, aku gitu lho, sudah pasti bagus!”, dan “Tak ada yang lebih baik dariku.”
  • Mengagumi diri sendiri, misalnya melihat foto sendiri dengan penuh kebanggaan atau becermin lama-lama, termasuk memotret diri sendiri.
  • Menunjuk-nunjukkan kehebatannya pada orang lain, misalnya menceritakan pujian orang lain terhadapnya dan menceritakan prestasi yang diraihnya.
kekuatan motivasional orang-orang narsis diragukan. Daya dorong mereka untuk berkarya, merebut kekuasaan, memperoleh prestasi, adalah alasan keberadaan mereka. Hidup bahagia adalah hidup karena harus berbeda dari orang lain. Jangan katakan itu bagus, karena ada resiko-resiko berikut.
Benar, orang harus berikhtiar optimal dalam pencapaian kualitas diri. Tetapi bukan berarti berkibar sendirian. Menjerumuskan pihak lain untuk takluk. Mengalahkan dengan asas bumi hangus (merusak segala, yang penting tujuan tercapai). Resiko besar ini yang sangat mengerikan dari orang narsis. Beda dengan motif kemanusiaan dalam berkarya. Karena memungkinkan tumbuh bersama. Menang bersama. Dan menikmati keberhasilan bersama.
Orang-orang narsis, tidak dalam pemikiran seperti itu. Bahkan, kondisi rusak dan hancur sekalipun, di lingkungan terdekat, tak jadi masalah. Yang penting, ia berbeda, dalam status selamat dan nyaman. Tak aneh, jika kemudian Erich Fromm menyebut “narsisme” adalah salah satu gejala dari “nekrofilia” (mencintai kehancuran, di pihak lain).
Perbincangan di atas, berbicara dalam konteks narsisme pribadi. Lantas bagaimana dengan narsisme berjamaah? Ketika cinta diri berlebihan menggejala secara hebat?

     Terkadang kita memandang narsisme merupakan hal yang biasa dan tak perlu mendapatkan penanganan. Hal ini mungkin ada benarnya bila penderita narsis tersebut belum tergolong ke dalam tingkat yang parah atau belum mengganggu kenyamanan orang lain.
    Namun, ada kalanya tanpa disadari penyimpangan seperti narsis tersebut mengalami perkembangan ke arah yang lebih buruk, dan dianggap sudah mengganggu baik bagi orang lain maupun bagi si penderita itu sendiri. Pada saat seperti itulah penderita narsis perlu segera ditangani dan diatasi.

    Kapankah harus ke dokter untuk ditangani dan diobati?
    Ketika seorang penderita narsis sudah terjebak dalam pemikiran bahwa segalanya harus sempurna (perfect) dan semuanya tidak boleh ada yang salah, maka hal tersebut bisa menimbulkan masalah bagi kehidupan dan lingkungan sekitarnya. Dampaknya hubungan di sekolah, tempat kerja, atau hubungan-hubungan interaksi yang lain menjadi sangat terganggu.
    Jika dibiarkan berlarut-larut, hal ini tentu akan membuat si penderita menjadi tidak bahagia dan semakin bingung dengan segala bentuk emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Orang-orang di sekitar nya pun pastinya tidak akan merasa bahagia dan nyaman.
    Akibat terburuknya bila si penderita dijauhi, maka si penderita akan merasa kebutuhan interaksinya dengan manusia lain tidak terpenuhi. Pada saat seperti inilah si penderita narsis perlu mendapatkan pengobatan melalui penanganan secara psikologis.
    Remaja yang masih mencari jati diri biasanya memang mengalami gejal-gejala seperti narsisme. Yang menjadi tidak wajar adalah apabila gejala-gejala narsisme tersebut terus melekat dalam diri sampai dewasa. Hal ini lah yang nantinya akan berkembang menjadi suatu kelainan kepribadian.
    Komplikasi yang mungkin terjadi
    Pada tingkatan yang cukup parah, bisa terjadi berbagai komplikasi yang menyertai kehidupan si penderita narsis, antara lain :
    • Penyalahgunaan zat-zat kimia
    • Konsumsi alcohol yang berlebihan
    • Depresi
    • Berpikir dan Mencoba untuk bunuh diri
    • Terkadang bisa mengalami anorexia
    • Kesulitan dalam membangun suatu relasi
    • Menjadi sangat sensitive terhadap kritikan, bisa merasa sangat terhina, rendah. 
    sumber:

    http://psikologi-online.com/orang-orang-narsis

    http://endibiaro.blogdetik.com/?p=202

    http://keluargabahgia.multiply.com/journal/item/27/Penyakit_Narsis?&item_id=27&view:replies=reverse








      0 komentar:

      Posting Komentar